Langsung ke konten utama

Mientras dure la guerra / While At War (2019) : "Kisah perjuangan seorang Penulis terkenal untuk meminta pengampunan kepada Jendral Francisco Franco" | Movie Review #4 | Europe On Screen Festival 2021 Online Edition

- Mientras Dure La Guerra (2019) 

Kisah perjuangan seorang Penulis terkenal meminta pengampunan kepada Jendral Francisco Franco untuk membebaskan kawan-kawannya pada Perang Saudara Spanyol



    Mientras Dure La Guerra (Inggris : While At War) merupakan film bergenre biopic drama sejarah dari Spanyol yang dirilis pada tahun 2019 dan disutradarai oleh Alejandro Amenabar serta dibantu oleh Alejandro Hernández dalam penulisan skenario. Diperankan oleh Karra Elejalde sebagai Protagonis Utama dan dibantu dengan Luis Zahera sebagai Atilano Coco dan Carlos Seranno Clark sebagai Salvador sebagai Supporting Character dari Protagonis ini. Film karya Alejandro Amenabar ini  tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto 2019 dan telah menyabet beberapa penghargaan dalam festival-festival film internasional, beberapa penghargaan yang bisa saya sebutkan yaitu: 

  1. Film Berbahasa Asing Terbaik, Haifa International Film Festival 2019
  2. Nominasi Film Terbaik, Festival Film Internasional Donostia-San Sebastián 2019
  3. Aktor Pendukung, Desain Produksi, Desain Kostum, Make-up dan Hair, dan Penata Artistik Terbaik.


    Ini merupakan film pilihan kedua terakhir saya pada acara Festival Film Eropa di Indonesia yaitu Europe On Screen yang diselenggarakan secara virtual melalui Festival Scope dari tanggal 15-27 September 2021. Sebelumnya saya ingin membuat review film-film festival ini secara berurutan dari film pilihan pertama hingga akhir namun saya pikir rasanya tidak perlu, sehingga film ini perlu saya review langsung tanpa berurutan. 

    Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata dari Miguel de Unamuno, seorang esayis, novelis, penyiar, pengarang drama, filsuf, profesor Yunani dan klasik, dan kemudian rektor di Universitas Salamanca pada era Perang Saudara Spanyol (17 Jul 1936 – 1 Apr 1939).

"Perang Saudara Spanyol adalah perang saudara di Spanyol yang berlangsung dari 17 Juli 1936 hingga 1 April 1939, adalah konflik antara kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco yang mengalahkan kaum Loyalis yang dipimpin oleh Presiden Manuel Azaña dari Republik Spanyol Kedua."


Sinopsis

Miguel de Unamuno, seorang penulis terkenal dan rektor Universitas Salamanca, memberikan dukungan secara publik terhadap kudeta militer Spanyol tahun 1936. Hal tersebut menyebabkannya dipecat dari posisinya. Ketika beberapa temannya dipenjarakan atas dugaan afiliasi, Unamuno menemui Jenderal Franco untuk meminta pengampunan.


Storyline


Pada 18 Juli 1936. Salamanca, Castilla dan León (pusat ke Spanyol). Tentara Spanyol menyatakan keadaan perang di kota, berharap untuk memperluasnya ke seluruh Spanyol dan memperbaiki situasi yang tidak stabil di negara itu setelah proklamasi Republik Kedua Spanyol, lima tahun lalu.

Miguel de Unamuno yang sudah tua, tidak hanya penulis dan guru akademis tetapi salah satu intelektual paling terkenal di Spanyol, kecewa dengan Republik yang secara terbuka ia bantu ciptakan, mendukung pemberontakan baru dengan harapan membersihkan negara dari unsur-unsur keputusasaan yang tidak diinginkan. Dari teman dekatnya guru Salvador dan pendeta Atilano, menciptakan terlalu banyak masalah di rumahnya di mana Miguel tinggal bersama putrinya María dan Felisa, pembantu rumah tangganya Aurelia dan cucunya Miguelín. Pada saat yang sama walikota Salamanca Casto Prieto ditangkap tanpa alasan yang jelas dan istrinya Ana meminta bantuan Miguel de Unamuno.

Kepala Staf Gabungan bertemu untuk memutuskan strategi untuk mengambil alih kekuasaan, di mana tanpa ampun si bermata satu, berlengan satu yaitu Jenderal Astray-Millan yang berkaki satu, sang tangan kanan Jenderal Franco, mengusulkan untuk memilih Franco sendiri sebagai pemimpin meskipun ditentang oleh Jenderal Cabanellas, yang takut Franco membunuh Republik yang dia sukai untuk mengubahnya menjadi kediktatoran.

Ketika Atilano tiba-tiba hilang, istrinya Enriqueta melaporkan Miguel de Unamuno tentang penangkapannya sementara Salvador mencoba mengingatkannya tentang maksud sebenarnya dari revolusi militer: mengubah Spanyol menjadi negara fasis.


Enggan untuk mempercayainya, ketika kemudian Salvador ditangkap di depannya, Miguel de Unamuno yang malu dan sedih mempertanyakan dirinya sendiri dan posturnya tentang revolusi meminta untuk bertemu dengan Franco, bernama Kepala Staf Angkatan Darat Spanyol dengan kekuatan penuh politik dan militer setelah pertempuran Alcázar de Toledo, untuk membuat permintaan khusus, menjadi saksi langsung dari peristiwa yang akan mengubah Spanyol selamanya.



Review


    Ketika pertama kali melihat adegan awal dari film ini saya merasa takjub dengan aspek sinematiknya mulai dari Mise en Scene sampai teknik sinematografinya, itu sangat menggambarkan bagaimana keadaan pada saat itu. Secara plot film ini juga maju sehingga film ini mudah dipahami kronologinya.

    Selama menonton film ini saya sangat terkagum dengan akting-akting para tokoh yang ada di film ini, mereka sangat berperan dengan baik dan masing-masing menjiwai karakter yang diperankan termasuk yang memerankan karakter Miguel Umamuno, Karra Elejalde terkhusus Eduard Fernandez (General Jose Millan Astray) dan Santi Prego (General Francisco Franco) sepanjang film akting mereka berdua benar-benar mencuri perhatian, orang yang memerankan Jendral Francisco Franco juga sangat mirip sekali penampilan dan wajahnya. Selain itu juga akting dari karakter pembantu protagonis yaitu Pendeta Atilano Coco diperankan oleh Luiz Zahera dan Salvador yang diperankan oleh  Carlos Serrano Clark. Ada yang saya suka hubungan antar karakter dalam film yaitu chemistry antara Miguel Unamuno diperankan oleh Karra Elejalde dengan cucu laki-lakinya yaitu Miguelin yang diperankan oleh Jorge Andreu, hubungan mereka berdua sangat wholesome sekali sebagai Kakek dengan Cucu, ada satu Scene yang membuat hati saya sangat tersentuh yaitu ketika Miguelin cucunya itu menghampiri Miguel kakeknya (mohon maaf saya agak sedikit lupa wkwk) dan dimana Miguelin ingin menjaga Miguel di tengah malam jika tidak salah karena takut kehilangan kakeknya, dialog antara mereka itu yang membuat saya tersentuh dimana mereka berdua saling menguatkan karena Miguelin ditinggalkan oleh Ayahnya saat masih bayi sedangkan Miguel ditinggal pergi oleh Istrinya saat masih muda, hal itu sangat relate dengan kehidupan yang saya rasakan yaitu kehilangan orang yang saya cintai, kedua orang tua saya. 

    Ada scene yang membuat sifat patriotisme saya merasa terguncang padahal saya sendiri bukanlah Warga Negara Spanyol, Ya scene itu adalah ketika Jendral Francisco Franco meminta salah satu prajurit untuk mengibarkan Bendera Monarki Spanyol lalu meminta pasukannya menyanyikan lagu "La Marcha Real" yang sekarang menjadi lagu kebangsaan Kerajaan Spanyol saat ini. Entah kenapa bagaimana para pasukan bernyanyi membuat kita sendiri bangga akan sikap nasionalisme yang kita miliki.

    Perjuangan dari Miguel Umanumo dalam adegan terakhir dalam film ini juga patut dihormati dan juga diapresiasi akting dari aktor yang memerankan tokoh protagonis ini. Overall saya suka bagaimana film ini memvisualisasikan dalam aspek sinematik maupun narasi yang mengangkat kisah hidup seseorang.

-Recommended To Watch-
⭐ Rate: 8/10 


*Favorite Scene





* Trailer 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Der Hauptmann (2017) : "Ketika Prajurit Fallschirmjager menyamar sebagai Kapten Luftwaffe" | Movie Review #2

Rival (2020) : "Bocah Ukraina yang datang secara illegall ke Jerman untuk bertemu dengan Ibunya" | Movie Review #3 | Europe On Screen Festival 2021 Online Edition

-RIVAL (2020) Seorang Anak laki-laki Ukraina yang datang ke Jerman secara illegall dengan diselundupkan melalui Van untuk bertemu Ibu-nya             Rival (Judul asli: Rivale ) merupakan film bergenre Drama dari Jerman dan Ukraina yang dirilis pada tahun 2020 dan disutradarai oleh Marcus Lenz serta dibantu oleh Lars Hubrich dalam Penulisan Skenario film ini . Film ini diperankan oleh Aktor Cilik bernama Yelizar Nazarenko dari  Ukraina sebagai Protagonis dalam film ini. Film karya Marcus Lenz ini sudah menyabet 3 Kemenangan dan 12 Nominasi penghargaan dalam festival-festival film Internasional, beberapa penghargaan yang bisa saya sebutkan yaitu: Film Terbaik, Hof International Film Festival 2020 Sinematografi Terbaik, Minsk International Film Festival 2020 Nominasi Film Terbaik, Busan International Film Festival 2020                Pada acara  Edisi ke-21 festival film Europe on Screen dis...

Ein bisschen bleiben wir noch / Oskar & Lili: Where No One Knows Us (2020) : "Kisah Keluarga Imigran Checnya yang terancam deportasi dari Austria" | Movie Review #5 | Europe On Screen Festival 2021 Online Edition

 - Ein Bisschen Bleiben wir Noch (2020) Kisah perjuangan Kakak Beradik yang terpisah untuk bersatu kembali dengan Ibunya namun terancam deportasi ke negara asalnya      Oskar & Lili : Where No One Knows Us (Bahasa Jerman :  Ein bisschen bleiben wir noch) merupakan sebuah film Drama keluarga dari Austria yang disutradarakan dan penulisan skenario oleh Arash T. Riahi, seorang Sutradara berkebangsaan Austria yang juga merupakan imigran dari Iran. Film ini sendiri diadaptasi dari sebuah novel berjudul "Oskar and Lili" yang ditulis oleh Monika Helfer dan dipublikasikan pada tahun 1994. Film ini sendiri sudah menyabet penghargaan: 11 kemenangan dan 16 nominasi dalam Festival-festival film yang diikuti, salah satunya yang dapat saya sebutkan : Audience Award, pada Max Ophüls Festival 2020 Film Terbaik, pada Filmfestival Kitzbuehel 2020 Film Terbaik, pada  Olympia International Film Festival for Children and Young People 2020     Ini merupakan fi...