Der Hauptmann (2017) : "Ketika Prajurit Fallschirmjager menyamar sebagai Kapten Luftwaffe" | Movie Review #2
Der Hauptmann (2017)
Prajurit Desertir yang menyamar sebagai Kapten gadungan yang melakukan
kejahatan perang terhadap sesama tahanan desertir
The Captain (Jerman: Der Hauptmann) merupakan film dengan narasi Jerman yang dirilis pada tahun 2017 yang ditulis dan disutradarai oleh Robert Schwentke. Film ini sendiri pernah ditayangkan pada "2017 Toronto International Film Festival". Diperankan oleh Max Hubacher sebagai Tokoh Utama dalam film ini yang mengisahkan seorang Prajurit Fallschirmjager (ParaTrooper) yang melakukan tindakan desertir atau kabur dari panggilan tugas ketika berperang dan kemudian menemukan sebuah seragam dan perlengkapan yang ditinggalkan dan kemudian menyamar dan berpura-pura sebagai Perwira Kapten Luftwaffe yang diutus langsung oleh Der Fuhrer, Adolf Hitler.
Plot
Scene dimulai dengan seorang prajurit bernama Willy Herold (Max Hubacher) yang kabur meninggalkan tugasnya dan sedang dikejar oleh Feldgendarmarie yaitu Pasukan Polisi Militer Nazi Jerman yang bertugas untuk menangkap para prajurit yang desertir dan dipimpin oleh Hauptmann Junker (Alexander Fehling). Wajah Willy Herold yang ketakutan dan sangat kotor itu mengumpat di sebuah akar pohon dan berhasil mengelabui para pasukan, dia pun kemudian melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Prajurit yang desertir juga namun memiliki nasib yang malang.
Singkat cerita Willy Herold kemudian melihat sebuah Mobil yang tertinggal, disana terdapat koper ketika dia membukannya didalamnya terdapat sebuah seragam Kapten Luftwaffe (Angkatan Udara Nazi Jerman) lengkap beserta perlengkapannya.
Willy Herold mengambil seragam dan menyamar sebagai kapten, mengambil alih komando sejumlah orang yang tersesat saat dia bergerak melalui pedesaan Jerman dengan kedok bahwa dia sedang dalam operasi misi khusus yang diperintahkan langsung oleh Hitler sendiri, untuk menilai moral para prajurit di belakang garis depan. Meskipun awalnya menjanjikan penduduk lokal untuk mengurangi penjarahan, Herold menjadi semakin kejam karena pasukan yang lebih berbeda bergabung dengan komandonya, dan ia namakan unitnya itu Kampfgruppe Herold. Pasukan ini termasuk Freytag (Milan Peschel), seorang penembak tua yang baik hati yang dijadikan sebagai sopir Herold, dan Kipinski (Frederick Lau) seorang pemabuk yang sadis. Akhirnya, Kampfgruppe Herold menemukan kamp Jerman yang penuh dengan desertir yang menunggu eksekusi dan mengambil kendali atas operasi di sana.
Akhirnya, kamp tersebut dihancurkan oleh serangan udara Sekutu, dan Kampfgruppe Herold pindah ke kota setempat. Sementara di sana, kelompok itu menjarah banyak dari penduduk setempat, dan mendirikan komando darurat di sebuah hotel dengan nama Sonderkommando und Schnellgericht. Di bawah perintah ini, Herold memerintahkan eksekusi Kipinski. Setelah malam pesta pora, hotel grup diserbu oleh Feldgendarmarie atau Polisi Militer Nazi Jerman dan kemudian Herold ditangkap. Di pengadilan, Herold mengklaim bahwa dia bertindak hanya untuk membela rakyat Jerman, dan kemudian dia melarikan diri dari jendela sebelum dikirim kembali ke depan. Dalam adegan terakhir, Herold terlihat berjalan melalui hutan yang penuh dengan sisa-sisa kerangka, dan penonton diberitahu bahwa setelah perang ia dan beberapa kaki tangannya dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi oleh pasukan Sekutu.
Kredit akhir disertai dengan Herold dan kelompoknya mengemudi melalui jalan-jalan Görlitz di era modern dengan Mercedes-Benz G3 mereka, akhirnya mereka semua berhenti untuk menyapa dan mengganggu pejalan kaki lokal dengan berjalan kaki.
Review:
Dengan diambil dari kisah nyata film ini dikemas sangat menarik bagaimana tidak beberapa adegan di film ini disisipkan dengan komedi yang nyentil seperti di awal adegan Willi Herold yang berusaha kabur dari kejaran truk Polisi Militer dengan diiringi prajurit yang meniupkan trompet layaknya seperti sirkus, kemudian pada adegan yang mendekati akhir film kita akan melihat bagaimana sombongnya dan konyolnya Willi Herold dengan seragam kaptennya bersama kelompoknya menaiki mobil Mercy G3 sambil jalan-jalan di tengah perkotaan, dan yang paling lucunya lagi adalah pada credit scene dimana mereka melakukan hal yang sama yaitu keliling kota dengan menaiki Mercy G3 mereka namun yang beda adalah mereka mengemudi di ERA MODERN saat ini sambil menganggu para pejalan kaki. Jujur adegan ini sangat lucu banget loh, entah rasanya film ini memang tidak ingin terlalu diseriuskan dengan betapa gila dan jahatnya karakter Willi Herold disini apalagi dengan tone film yang berwarna hitam-putih sehingga atmosfernya lebih dark, meskipun itu nampaknya sang sutradara sendiri ingin menyelipkan komedi sedikit sehingga film ini mempunyai ciri khasnya sendiri.
Film yang dikemas dengan tone warna hitam-putih sehingga atmosfir tahun 40an dari film ini sangat terasa, film ini juga mengingatkan gue akan film "Schindler's List" yang disutradarai oleh Steven Spielberg dengan tone film, kisah nyata dari biografi seseorang dan latar waktu yang juga sama mengenai Perang Dunia 2 dan Nazi Jerman, hanya aja keduanya berbeda yang satu lebih ke drama yang serius sedangkan yang satu lagi disisipkan dengan sedikit komedi. Shot-shot yang diambil dari film ini sangat lah aesthetic sekali, banyak shot-shot keren dan memukau ditambah karakter Willi Herold yang tampan dan berwibawa.
Dari segi akting, peran Max Hubacher sebagai Willi Herold benar-benar perfect kita bisa lihat dari awal sampai akhir film dimana ketika dia masih Prajurit Biasa yang lemah dan tak punya kekuatan hingga dia menyamar sebagai Kapten yang gagah dan berwibawa, dia sangat bisa memerankannya dengan seimbang. Selain itu ada Freytag yang diperankan oleh Milan Peschel si lelaki tua yang terlihat tidak bersalah dan dijadikan buah tangannya Willi Herold, dia juga berperan sangat baik sampai-sampai membuat saya ada rasa simpati terhadap dia dari keputusan-keputusan yang terpaksa harus dia lakukan. Dan juga jangan lupa dengan akting dari Frederick Lau yang berperan sebagai Kipinski di film ini, si pemabuk dan kekejamannya jauh lebih mengerikan dan kegilaannya juga benar-benar menjiwai.
Dari segi Busana, Dekorasi dan Properti: aspek-aspek ini sudah pasti sangat vital karena tanpa mengindahkan aspek-aspek ini film yang bertemakan sejarah akan secara historis tidak akurat. Dari segi busana sendiri sudah sangat menyerupai aslinya mulai dari seragam Kapten Luftwaffe yang digunakan oleh Willi Herold hingga seragam yang digunakan oleh pasukan Feldgendamarie dan juga pasukan-pasukan lainnya apalagi ditambah dengan narasi berbahasa jerman pastinya menambah nilai keakuratan secara historis di film ini. Dekorasi dan properti yang digunakan di film ini juga sederhana sekali mereka gak perlu mengeluarkan properti-properti yang kelihatan besar dan mahal seperti tank-tank dan kendaraan tempur lainnya maupun menunjukan suasana peperangan, bahkan di adegan ketika pesawat sekutu menembaki Kamp tersebut, pesawat itu terlihat hanya seperti Efek Visual saja kecuali dari ledakan kamp tersebut. Ini menandakan bahwa dengan property dan dekorasi yang tidak terlalu begitu besar hanya mengandalkan dengan tone warna hitam putih dengan plotnya yang menarik bisa menjadikan film ini layak untuk ditonton.
Pesan yang bisa gue ambil dari film ini adalah bahwa ketika seseorang mendadak atau sudah mempunyai kekuasaan di tangannya maka dengan segala tekanan yang dia hadapi dia akan melakukan segala cara dengan sewenang-wenangnya bahkan terhadap sebangsanya sendiri.
Favorite Scene:
⭐ Rate : 8.5 / 10 ⭐
- Recommended to Watch -








Komentar
Posting Komentar